Jumat, 28 Desember 2007

Ketika Umat Manusia Semakin Bodoh

====================================================================


www.reformata.com
Oleh Pdt. Bigman Sirait
Manusia adalah makhluk yang pintar. Manusia juga sadar serta yakin akan kepin-tarannya itu. Ke-pintaran ini pula yang membuat manusia mampu menjelajahi alam semesta, khususnya Bumi. Manusia mampu menggali isi perut Bumi dan memanfaatkannya demi kemudahan hidup serta kesejah-teraan. Yang lebih spektakuler, makhluk ciptaan Tuhan yang pa-ling mulia ini sudah mendarat di Bulan. Sayang, berdasarkan pe-nelitian, tidak ada peluang bagi makhluk bumi untuk hidup dan berdomisili di Bulan. Meski demi-kian, manusia ternyata belum pu-as. Penelitian angkasa luar serta pembangunan teknologi pendu-kungnya terus dilakukan. Hasilnya, Amerika Serikat dengan NASA-nya belum lama ini sukses menda-ratkan pesawat di Planet Mars. Pesawat tanpa awak yang diken-dalikan dari Bumi ini mengambil gambar-gambar di permukaan Pla-net Mars dan secara berkala mengirimkannya ke Bumi. Berda-sarkan foto-foto inilah para ahli se-dang meneliti apakah planet merah ini layak dihuni oleh warga Bumi. Berkat anugerah kepintaran ini, manusia bisa menciptakan segala sesuatu demi kemudahan hidup. Dengan kemajuan ilmu pengeta-huan dan teknologi, manusia mampu mengembangkan pene-muan-penemuan baru yang serba luar biasa. Di bidang kedokteran misalnya, pasangan suami-istri yang kesulitan punya anak bisa ikut program bayi tabung. Dan yang lebih spektakuler, dengan tekno-logi kloning, bisa dibuat “fotokopi” seseorang—meskipun dia sudah lama meninggal dunia. Sadar akan kehebatannya itu, tidak sedikit pula manusia jaman sekarang yang merasa tidak membutuhkan orang lain. Realita ini membuat sifat individualistis ma-nusia semakin menonjol. Salah satu bentuk dari sifat tidak membu-tuhkan orang lain ini sering tampak dalam kehidupan suami-istri. Dulu, rasa kebergantungan seorang istri terhadap suami begitu kuat. Tetapi di era modern ini, rasa kebergantungan itu semakin tipis. Bahkan, istri-istri pada jaman sekarang sudah ada yang “berani” berkata, “Memangnya cuma suami saja yang bisa cari makan? Saya juga bisa!” Kenyataan-kenyataan seperti ini memang pahit. Di mana ketika manusia dalam penjelajahan dan pencahariannya itu semakin pintar, ternyata pada titik yang sama muncul sebuah kebodohan yang amat sangat. Semakin manusia itu pintar, ternyata dia semakin bo-doh. Kenapa? Karena di dalam realita sosialnya saja, semakin manusia itu pintar atau semakin he-bat, individualistisnya semakin kuat. Jika perasaan mandirinya semakin kuat, dia semakin tidak membu-tuhkan orang lain pula. Namun, justru di sinilah kebodohan manu-sia itu mulai ditunjukkan. Padahal konsep penciptaan manusia oleh Allah adalah untuk saling bergan-tung. Dalam Kejadian 2: 18 Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. AKU akan menjadikan penolong bagi-nya, yang sepadan dengan dia.” Dengan demikian, maka konsep kebersamaan, kebergantungan manusia yang satu dengan yang lain merupakan persekutuan yang paling tinggi di dalam hakekat ke-manusiaan. Oleh karena itu, ma-nusia yang semakin pintar dan membuat dia makin individualistis itu juga akhirnya semakin bodoh karena menghilangkan atau menyangkal hakekatnya sebagai makhluk yang memerlukan orang lain. Sebab dengan adanya pera-saan tidak membutuhkan orang la-in, sebenarnya manusia sedang membunuh perasaannya. Padahal unsur ini (rasa membutuhkan orang lain) sangat perlu di dalam diri seorang manusia. Sifat kebersamaan, sifat membutuhkan orang lain, perlu dan mutlak untuk terus dipupuk. Jelaslah bahwa kepintaran manusia yang hebat itu, hikmat-nya yang sangat luar biasa itu, ternyata menjadi kebodohan pula. Karena semakin manusia itu ber-hikmat, semakin bertambah ilmu-nya, dia semakin tidak mengenal Allah, karena dia tidak mau tahu Allah. Ia semakin mengabaikan Allah dan menganggap bahwa dirinyalah Allah. Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia yang makin pintar itu sekaligus pa-da saat yang bersamaan juga menjadi semakin bodoh? Oleh karena itu, kemajuan jaman menjadi malapetaka pula. Di satu sisi, kemajuan jaman memberikan pengharapan, serta suatu nilai plus. Tetapi pada saat yang bersamaan kemajuan jaman mengancam keimanan manusia, bahkan membunuh dan menca-bik-cabiknya. Sehingga manusia kehilangan pegangan keperca-yaan yang sejati kepada Allah. Kenyataan-kenyataan seperti ini membuat kita harus berhati-hati. Sebab ternyata keberhasilan tidak selalu menjadi kesukaan. Keberha-silan ternyata tidak selalu memba-wa kita pada kebahagiaan. Karena kesukaan, kehebatan, keberha-silan, justru bisa membawa kita ke ledakan malapetaka yang sangat mengerikan, di mana kita bisa kehilangan rasa cinta terhadap sesama, kehilangan rasa kebergan-tungan, dan bahkan kehilangan kepercayaan. Oleh karena itu, di dalam paradoks seperti ini kita ti-dak boleh terjebak, tetapi bagai-mana seharusnya kita belajar un-tuk menekuni, meyakini kebena-ran Alkitab. Alkitab mengatakan bahwa orang-orang berdosa itu adalah orang-orang bodoh. Sebaliknya, menurut ukuran manusia, orang yang menguasai ilmu pengetahu-an itu disebut pintar. Tetapi mereka itu menjadi bodoh jika diu-kur dari ukuran Tuhan. Mereka itu memang bodoh, karena tidak bisa mengenal Tuhan. Jadi, pada waktu orang tidak bisa mengenal Tuhan, itu adalah sebuah kebo-dohan, karena dia tidak akan me-nemukan jalan keselamatan. Dan tragisnya adalah, kebodohan itu justru muncul pada saat manusia itu mempunyai hikmat yang paling tinggi, ilmu pengetahuan dan teknologi serba canggih, pene-muan-penemuan yang paling hebat. Dengan demikian, bukan-kah merupakan suatu tragedi ya-ng sangat menyesakkan ketika manusia itu disebut bodoh? Seharusnya, dengan kecerdasan yang luar biasa serta penemuan-penemuan yang mencengangkan itu, manusia semakin mengerti dan mengenal Allah. Tetapi yang terjadi justru kebalikannya. Ini benar-benar sebuah tragedi yang sangat menyedihkan dan sangat pahit. Tetapi ini adalah realita yang tidak bisa dielakkan dari kehidupan umat manusia. Oleh karena itu kita harus berhati-hati di tengah-te-ngah kehidupan supaya tidak ter-jebak ke dalam perangkap-pe-rangkap yang pada satu sisi sepertinya sangat menjanjikan, tetapi di segi lain mematikan. Pada satu sisi kita tampak semakin bijak dan pintar tetapi di sisi lain kita semakin kehilangan arah. Maka, berpeganglah senantiasa pada Allah, sebab hanya DIA-lah jalan keselamatan itu.* (Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan) TABLOD REFORMATA YOHANES BLOG

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Khotbah Minggu

VIDEO

Konsultasi Teologi

Khotbah Populer

Arsip Blog

Entri Populer