Selasa, 15 September 2009

DICOBAI OLEH KEINGINAN DIRI SENDIRI

====================================================================

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada orang yang mengasihi Dia. Apabila seseorang dicobai, janganlah berkata kalau percobaan itu datang dari Allah. Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

(Yakobus 1: 12 –18)

BOLEHKAH kita mengatakan bahwa pencobaan itu datangnya dari Allah? Alkitab, dalam Surat Yakobus di atas, dengan jelas mengatakan bahwa pencobaan tidak datang dari Allah. Lalu bagaimana kita memahami pencobaan yang terjadi terhadap Abraham?

Pencobaan memiliki dua dimensi pengertian yaitu dimensi positif dan negatif. Dalam dimensi positif, cobaan menguji dan memperbaiki sifat seseorang sementara yang negatif menggoda, menunjukkan kelemahan atau menjebak. Yang negatif dikerjakan iblis, sedangkan yang positif dikerjakan Allah.

Allah tidak mencobai siapa pun dalam pengertian negatif. Ia tidak menggoda siapa pun untuk menjatuhkan dan menjebaknya. Allah hanya mengerjakan hal yang positif untuk memperbaiki sifat seseorang agar layak menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Bagaimana iblis bekerja? Salah satunya adalah melalui keinginan kita sendiri. Ada tiga cara yang ditempuh manusia dalam mencobai dirinya sendiri yaitu: berpikir melampaui kemampuan (kesombongan intelektual), mengambil melebihi kebutuhan (keserakahan), dan mengatakan melebihi kebenaran (penipuan).

Berpikir melampai kemampuan

Yakobus menegaskan bahwa seseorang dicobai dan hancur oleh keinginannya sendiri. Bagaimana hal ini terjadi? Mari kita simak dalam Roma 12:3 “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

Di sini Rasul Paulus menggambarkan cara pertama kita mencobai diri kita sendiri yaitu berpikir melampaui apa yang boleh dipikirkan. Berpikir melampaui kemampuan yang Tuhan berikan, berarti mencobai diri sendiri yang berakibat pada kejatuhan. Itulah yang sering kita lakukan. Kita sering memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita tangkap dalam alam pikiran kita. Kita berspekulasi tentang sesuatu yang tidak pernah dijelaskan Tuhan secara tuntas. Tentang hari kiamat misalnya, Yesus sendiri mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu tentang kapan hari kiamat itu terjadi. Tidak Anak Manusia, tidak juga malaikat, kecuali Bapa yang di dalam surga. Apakah Yesus sungguh tidak mengetahui kapan hal itu terjadi? Ia tidak mengetahui bukan karena Ia tidak tahu; Ia tidak mengetahui bukan karena Ia hanyalah seorang manusia. Ia Allah yang sempurna, tetapi Ia adalah Allah yang membatasi diri-Nya. Ia membatasi apa-apa yang penting di dalam hidup-Nya. Ia membatasi sifat keilahian-Nya yang mutlak pada diri-Nya.

Pada waktu Yesus membatasi diri-Nya, Ia mengatakan tidak ada yang tahu kecuali Allah Bapa. Tapi kenyataannya, manusia mulai mengintervensi bahkan melewati pemikiran Kristus sendiri. Mereka mulai menghitung, mencari tahu kapan Tuhan Yesus kembali, kapan akhir zaman itu? Mereka mulai mereka-reka dengan berbagai argumentasi yang sebenarnya tidak pada tempatnya. Lalu Yesus seakan-akan tampak bodoh karena Ia mengakui bahwa Ia sendiri tidak tahu, sementara banyak pendeta yang mengaku mengetahui tentang datangnya hari kiamat itu. Kalau para pendeta itu tahu, sementara Yesus tidak tahu, berarti Yesus lebih bodoh daripada pendeta. Atau pendeta itu lebih bodoh, tetapi memintar-mintarkan dirinya. Pendeta seperti ini sedang mencobai dirinya sendiri dengan mengatakan hal-hal yang sebenarnya sangat mengerikan. Memikirkan hal-hal yang bukan bagian kita, yang merupakan suatu misteri, kita sebenarnya tengah mencobai diri kita.

Tuhan tidak menyuruh kita memikirkan hal ini, tetapi Ia mengatakan hal yang jelas untuk kita pikirkan yaitu Dia, Yesus Kristus itu akan datang ke dunia ini seperti pencuri. Karena itu bersiap-siap dan berjaga-jagalah. Itu saja yang dimintaNya dari kita. Begitu sederhana. Kita tidak perlu memikirkan kapan saatnya tiba. Bila kita hidup dekat dengan Allah, hidup bersama Tuhan, kapan pun Tuhan datang, tak ada masalah. Jadi janganlah memikirkan sesuatu yang melebihi kemampuan lalu mulai berspekulasi dan akhirnya menyimpulkan sesuatu yang amat menakutkan. baca selanjutnya...

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Khotbah Minggu

VIDEO

Konsultasi Teologi

Khotbah Populer

Arsip Blog

Entri Populer