Senin, 04 Februari 2013

IMAN ABRAHAM AKAN KEBANGKITAN

====================================================================

Secara ringkas Ibrani 11:17-19, mengungkapkan kepada tiap orang percaya tentang iman. Ya, iman Abraham yang membuatnya berpikir bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang orang sekalipun dari kematian. Sebuah pemahaman yang sangat luar biasa, mengingat kematian dan kebangkitan baru ada kemudian. Abraham menjadi pelopor iman yang percaya akan kebangkitan, dan itu, di era pra Taurat. Mundur dari kebangkitan Kristus, paling tidak ada bentang waktu lebih dari 2000 tahun. 

         Ini sebuah realita yang luar biasa. Bagi orang percaya dimasa kini, percaya akan kebangkitan memiliki argumentasi dan bukti peristiwa yang kuat. Di era Abraham yang sangat jauh dibelakang, mengajarkan kita, akan realita beriman yang melintasi pengetahuan dan pembuktian. Abraham yang dikenal sebagai bapa orang percaya, secara implisit telah menunjukkan kepada kita “kelayakannya”.  Dia telah tampil mewakili semua orang percaya untuk percaya akan kebangkitan dalam kuasa Allah.

         Jadi, paham kebangkitan telah ada jauh sebelum kebangkitan Yesus Kristus. Dan itu dicetuskan oleh Abraham bapa orang percaya. Yang dalam peristiwa yang dialaminya, Allah meminta Abaraham agar mengorbankan anaknya yang semata wayang. Allah memberi, Allah meminta, itulah kisahnya. Betapa sulitnya bagi Abraham untuk meng-aminkan permintaan Allah, yang seakan ingkar janji. Panjangnya penantian Abraham akan janji Allah seakan tak bermakna. Tapi, hebatnya, Abraham tak menggugat, bahkan sebaliknya dia memberikan anaknya dalam kerelaan yang dalam.

         Abraham menjadi peraga indah tentang orang beriman. Dalam imannya, dia yang menjalankan pengorbanan yang dituntut Allah. Abaraham memberikan anaknya Ishak, seakan pengantar bagi kita tentang kasih Allah yang besar, sehingga juga memberikan anak Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Walaupun ada dalam konteks kualitas yang berbeda, namun alurnya membuat kita harus merenung serius. Betapa dalamnya ketaatan Abraham, betapa besar kasihnya kepada Allah. Itulah, iman sejati.

         Kita harus belajar, bahwa iman adalah percaya bahwa Allah bertindak benar, baik dalam memberi ataupun mengambil. Ayub juga pernah mengucapkan iman yang seperti ini, dengan berkata; Tuhan memberi, Tuhan mengambil. Disinilah letak iman yang sejati. Iman yang membuat Abraham rela mengorbankan Ishak, dalam percayanya akan kebangkitan, jika Allah menghendaki.

         Kini era kita, era dimana kita mewarisi iman yang percaya bahwa Yesus Kristus, tidak hanya telah mati menebus dosa, tetapi juga telah bangkit dari kematian. Dia telah mengalahkan maut, kuasa dosa dimatikan. Ini telah menjadi inti iman orang percaya. Disinilah iman kita bertumpu. Artinya, sudah semestinya, kita hidup sebagai pemenang yang tidak takut pada kematian, karena percaya akan kebangkitan. Bukankah Abraham telah mendemonstrasikan imannya dengan jelas. Tak seharusnya kita hidup dalam ketakutan, melainkan dalam kemenangan. Ingat, Abraham hidup di era pra Taurat, dan sangat  jauh dalam bentang waktu dari kebangkitan Kristus. Sementara kita ada didepan, mewarisi dengan lengkap Taurat (PL) dan Injil (PB). 

         Oleh karena itu, biarlah kiranya, Jumat Agung dan Paskah, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, membuat kita selalu menyadari keunggulan orang beriman. Ya, kita harus menguji diri, apakah kita sudah ada posisi yang pasti dan mesti. Berani hidup untuk Kristus, dan tidak takut mati demi kebenaran. Berani melayani, dengan berani memberi diri, bukan karena sekedar karena kita menyukai bentuk pelayanan yang ada, tapi karena kehadiran kita memang dibutuhkan. Selamat merenungkan, makna mendalam, Jumat Agung dan Paskah.


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Khotbah Minggu

VIDEO

Konsultasi Teologi

Khotbah Populer

Arsip Blog

Entri Populer